Juru Selamat Itu Bernama "Strobist"

Strobist BMW G 310 GS

Posisi matahari berada tepat di atas kepala saya. Bayangannya secara tegas jatuh di balik setiap lekukan mesin dan rangka. Membentuk area gelap tak sedap di hasil kamera. Satu hal yang menyelamatkan saya tengah pada hari bolong itu: strobist.


Namun, sebelum membahas lebih jauh lagi soal teknik fotografi yang ampuh ini, saya pengin mengungkap sedikit fakta. Begitu saya membawa motor BMW G 310 GS ini ke rumah atau bertemu kawan, nggak sedikit saya mendengar ucapan, “Wah, motor baru nih.” atau “Gonta ganti motor terus setiap bulan.”

Terlihat asyik memang. Walau sebenarnya motor atau mobil yang notabene produk baru itu bukanlah milik saya. Melainkan, statusnya adalah kendaraan test ride atau test drive yang dipinjamkan oleh Agen Pemegang Merek (APM) kepada media tempat saya bekerja untuk diulas. Termasuk difoto atau kadang dibuat videonya.

Meski bukan milik pribadi, saya tetap menikmatinya. Karena setidaknya saya punya kesempatan mencicipi kendaraan baru tanpa harus membeli. Suka atau nggak inilah salah satu pengalaman seru jadi pekerja di media otomotif.

Waktu yang disediakan untuk menjajal kendaraan-kendaraan itu tidaklah lama. Sekitar tiga atau empat hari. Serius, itu bukanlah waktu yang leluasa ketika kamu harus mencoba kendaraan tersebut untuk mendapatkan meteri konten.

Strobist BMW G 310 GS

Beruntung di media saya bernaung sekarang pengujiannya nggak terlalu komprehensif. Saya lebih direpotkan membagi waktu dengan pekerjaan yang harus dilakukan di kantor. Dengan waktu yang singkat maka kadang pemotretan pun dipaksakan masuk ke sela-sela jadwal harian.

Seperti halnya eksekusi pemotretan BMW G 310 GS milik Maxindo Moto yang berlaku sebagai distributor BMW Motorrad di Indonesia ini. Waktu yang saya miliki untuk memotretnya adalah siang hari. Apabila dilakukan seadanya, hasilnya bisa ditebak: foto dengan kontras antara gelap dan terang yang sangat tinggi. Bayangan-bayangan keras bakal muncul di bawah setiap lekukan.

Menurut saya hal ini nggak bisa dibiarkan untuk produk semacam sepeda motor. Di mana terdapat banyak detail di bagian bawahnya (mesin, rangka, roda) yang mungkin tertinggal. Solusi sederhananya adalah menggunakan reflektor untuk memantulkan sinar matahari dari bawah sehingga mencahayahi bagian-bagian tersebut.

Namun, hal ini nggak memungkinkan saat itu karena saya bertindak sendirian. Dari situ saya terpikir untuk mencoba teknik strobist. Bukan teknik baru, melainkan sudah banyak dipakai oleh fotografer. Intinya, storbist ialah teknik pemotretan dengan menggunakan lampu kilat yang terlepas dari body kamera. Memanfaatkan trigger dan receiver.

Strobist BMW G 310 GS

Penempatannya bisa diatur sesuai kehendak fotografer. Mengacu pada kebutuhan bagian mana dari objek yang ingin “ditembak” lampu kilat tersebut. Termasuk karakter cahayanya: keras, lembut, melebar, atau fokus. Dan semua itu berpengaruh para peralatan yang dibutuhkan.

Yang saya praktikkan di sini sangat sederhana. Storbist dengan hanya menggunakan satu buah lampu kilat. Itupun tanpa tambahan umbrella atau soft box. Alhasil, cahayanya tergolong keras, tapi itu bukan masalah karena saya hanya bertujuan menjadikan cahaya lampu kilat sebagai fill light.

Lain hal seandainya hendak memotret sesorang. Mungkin soft box atau shoot through umbrella dibutuhkan buat melembutkan cahaya.

Untuk hasil foto kali ini, strobist menolong saya “mengangkat” bagian-bagian shadow dari motor menjadi lebih terekspos. Juga membuat motor semakin menunjukkan detail dimensinya. Kontrasnya dengan cahaya ambiens diupayakan terjaga setelah masuk ke meja editing Andre Cahyo yang sehari-hari bekerja menjaga kualitas konten visual yang keluar dari kantor saya.

Comments

Popular Posts